Hewan Mungil Nan Lucu

Mungkin sebagian dari kita belum mengetahui, kalau di Lampung mempunyai tempat pembudidayaan hewan purba kala terbesar se-Nusantara.

Kali ini Pastabel berkesempatan menyambangi Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL), tempat di mana hewan yang mungil nan lucu dengan nama unik kuda laut ini dilestarikan.

Bila datang dari arah Kota Bandarlampung perjalanan menempuh waktu kurang lebih setengah jam menuju Kabupaten Pesawaran, tepatnya di wilayah Hanura, setelah Pantai Mutun dan Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdulrahman.

BBPBL Lampung menjadi satu-satunya institusi pemerintah di Nusantara yang membudidayakan ikan air laut. Lembaga yang berada di bawah koordinasi Dirjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, itu juga mengemban tugas menjaga kelestarian berbagai jenis hewan air laut dan membantu nelayan nasional.

Namun di antara sekian banyak hewan air laut yang dibudidayakan, ada satu jenis hewan yang sangat menarik perhatian. Selain langka, hewan satu ini disinyalir telah hidup sejak zaman purba oleh para ilmuan. Hewan yang dimaksud tiada lain adalah kuda laut, dengan bahasa latinnya Hippocampussp.

Dilokasi, tim dibantu Penanggung jawab Laboratorium Kuda Laut, BBPBL Lampung, Ali Hafiz Alqodri, untuk mengungkapkan bagaimana proses pembuahan hingga melahirkan ribuan bibit kuda laut setiap ekornya. Di tempat ini BBPBL membudidayakan 2 jenis kuda laut, yaitu kuda laut karang dan kuda laut rumput.

Membedakan keduanya pun cukuplah mudah, hanya dengan cara melihat ciri fisiknya saja.
Kalau jenis kuda laut karang memiliki ciri fisik mirip seperti hewan Zebra, ada dominasi hitam diselingi garis-garis putih ditubuhnya. Sedangkan jenis kuda laut rumput warnanya lebih terang tanpa disertai pola garis. Kuda laut jenis rumput ini memiliki pola gerakan yang terbilang lebih agresif ketimbang jenis kuda laut karang.

Kendati demikian tak berlebihan jika menyebut kuda laut sebagai hewan yang unik. Selain bentuknya yang memang sangat menarik, perilaku hewan yang masih berspesies ikan itu berperilaku tak lazim seperti hewan laut kebanyakan. Perbedaan perilaku ikan betina, misalnya, secara garis beras dalam proses pembuahan betina akan menjaga dan mengerami telurnya. Menariknya justru hal itu berlawanan dengan jenis hewan ini. Sebab, kuda laut jantan yang mengerami telur ketika pembuahan.

Perbedaan lainnya yakni pada proses pembudidayaannya cukup sulit. Meski demikan menurut Ali proses pembudidayaan kuda laut tidak begitu sulit dan tidak menghabiskan biaya yang cukup besar. Namun, memang harus butuh kesabaran khusus untuk bisa mencapai 35 centimeter tersebut.

Indukan kuda laut yang siap dikawinkan sendiri minimal berusia 6 bulan. Akan tetapi usia yang paling ideal jika sudah memasuki usia 8 bulan. Bila persyaratan itu sudah dipenuhi, kemudian pejantan dan betina dipertemukan dan disatukan dalam bak khusus.

Tidak butuh waktu lama, keduanya pun langsung memadu kasih, bahkan hanya dalam hitungan detik pasangan yang sudah berlibido tinggi itu langsung berhubungan intim.

Awalnya sepasang kuda laut itu akan saling mendekat. Pejantan yang memiliki postur tubuh lebih besar karena memiliki kantung pengeraman akan mengambil posisi di bagian bawah. Kemudian si betina secara inisiatif memasukan sel telur ke dalam kantung pejantan dengan menyemprotkannya.

Di kantung itulah telur-telur dierami.
Pengeramannya pun tidak terlalu lama, setelah 9 sampai 12 hari kedepan, anakan kuda laut atau yang biasa disebut juwana, dapat menari bebas. Juwana imut itu akan dikeluarkan secara bertahap.

Kuda laut tidak mengenal musim kawin, akan tetapi kuda laut juga terkadang kerap melahirkan Juwana premature. Jika sudah begitu, tubuh Juwana imut rentan dan sulit bertahan hidup.

Memang dibutuhkan ketelatenan ekstra untuk mengurusi juwana yang berukuran kecil. Terutama dalam perkara memberi pakan. Proses ini yang tergolong cukup sulit. Biasanya BBPBL akan menyuguhkan beragam mikroorganisme atau biasa dikenal zooplankton, sambil disesuaikan dengan tahap perkembangannya.

Untuk memperoleh zooplankton mesti berburu hingga ke daerah sekitar tambak-tambak ikan. Biasanya BBPBL memakai alat khusus bernama planktonnet. Setelah lewat dari 6 bulan, Juwana yang sudah beranjak besar menjadi kuda laut itu diberi udang rebon segar sebagai makanan utamanya.

Sedikit merepotkan, seperti cirri-ciri hewan purba, kuda laut hanya mengkonsumsi pakan asli dari alam yang aktif dan bergerak. BBPBL sudah sering merekayasa makanan yang bau dan rasanya menyerupai dengan pakan aslinya, tapi tetap saja, hewan purba ini tidak mau memakannya.

Ali menjelaskan fenomena kuda laut juga rentan terkena penyakit kulit, yang tentunya daat menyebar ke badan hingga mengakibatkan ekor kuda laut menjadi buntung bahkan berujung kematian.

Menurut Ali, mungkin ada pihak swasta yang juga melakukan penangkaran kuda laut, tetapi dapat dipastikan hanya di sini dilakukan penangkaran kuda laut secara massal. Kuda laut yang dibudidayakan di BBPBL ini murni sebagai upaya penelitian dan pelestarian. Bahkan saban tahun rata-rata tidak kurang dua ribu ekor kuda laut yang kami kembalikan ke alam di antaranya pernah di sekitaran Pulau Pahawang.

Meski demikian harga yang ditawarkan di pasaran tidak tanggung-tanggung, perkilo kuda laut kering dihargai dengan Rp3 sampai Rp5 juta. Jika ditarif dengan harga satu ekornya mencapai Rp25 ribu untuk kuda laut yang sudah kering dan mati. Sementara dalam keadaan hidup ditarifkan dengan harga Rp50 ribu setiap ekornya.

“Bisa mahal begitu karena katanya akan dipakai sebagai bahan baku obat-obatan, bahkan banyak yang bilang sangat manjur untuk obat vitalitas,” jelas Ali.

Sebagai informasi tambahan mengatakan, umur maksimal kuda laut hanya sebatas 2 tahun, dan sekali bereproduksi bisa mencapai 150 hingga seribu ekor Juwana.

“Ini tergantung ukuran kuda lautnya, kan ada ukuran S, M dan L,” kata dia.
Dia juga menguraikan, saat ini BBPBL Lampung memiliki sekitar 250 indukan siap kawin, dan ribuan juwana yang masih dalam proses penangkaran.
Pastabel Official
Pastabel Official Sejak Tahun 1993.